selamat datang di blog saya

semoga bermanfaat
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

asal-usul penamaan kota Banyuwangi Jawa Timur



Asal-usul kota Banyuwangi


Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya.

Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. 

Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. 
“Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.

”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. 

“Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. 
Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolak!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. 
“Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. 

Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang. Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.
Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
Moral : Jangan mudah terhasut oleh ucapan orang, karena sesal kemudian tidak akan merubah hal yang telah terjadi.

Rabu, 15 April 2015

Sejarah nama kota Glenmore



Glenmore. 

Glenmore merupakan  nama dari sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Kecamatan ini mempunyai 7 desa yakni Bumiharjo, Karangharjo, Sepanjang, Sumbergondo, Tulungrejo. Glenmore merupakan sebuah desa berhawa sejuk karena desa ini terletak di bawah gunung gumitir sehingga iklim di Glenmore cenderung beriklim gunung. Glenmore sendiri terkadang membuat orang berpikiran bahwa nama ini adalah nama kota di luar negeri karena  namanya yang cenderung asing untuk nama desa di Indonesia

khususnya di pulau Jawa. Glenmore memang terkesan seperti nama-nama dari Inggris. Biasanya nama-nama desa di pulau Jawa lebih menggunakan nam-nama  Jawa contohnya kalibaru, Setail, Sumberwadung dll.

            Nama Glenmore yang unik didengar itu mengundang rasa ingin tau seseorang untuk mencari tahu asal-muasal terciptanya nama Glenmore. Karena biasanya setiap nama desa atau Negara mempunyai sejarah bagaimana nama itu tercipta seperti nama kota Banyuwangi yang dikisahkan dari sepasang suami istri yang salah paham sehingga memicu konflik dimana sang istri dibunuh sehingga darah yang mengalir di sungai berbau wangi. Tapi berbeda dengan Glenmore yang sejarah pembentukan namanya masih belum jelas kebenarannya.

Di Glenmore juga terdapat beberapa peninggalan jaman Belanda seperti stasiun, kereta jaman dulu, gudang pabrik hingga jembatan. Tapi tidak satupun peninggalan sejarah itu yang memberi petunjuk atas asal mula nama Glenmore. Sebagian besar orang khususnya masyarakat Glenmore meyakini bahwa Glenmore gabungan dari dua kosa kata yakni “glen” dan “more”. “Glen” untuk menggambarkan daerah berhawa sejuk yang berlembah dan “more” adalah daerah yang memiliki wilayah hamparan berkontur lebih luas dari pada daerah sekitarnya. Konon nama Glenmore ini digunakan semenjak bangsa Belanda menjajah negara Indonesia khususnya di desa ini, hal ini diperkuat dengan adanya peninggalan-peninggalan sejarah yang sudah disebutkan sebelumnya. Tapi dugaan ini belum kuat karena belum ada bukti tertulis.

            Cerita lain menyebutkan bahwa nama Glenmore berasal dari sejarah Ros Taylor bangsawan Skotlandia yang membeli lahan perkebunan di daerah ini. Pada saat itu Ros Taylor sangat dihormati oleh penduduk lokal karena kekayaan dan status sosialnya. Sebagai penghormatan pada Ros Taylor, masyarakat lokal bersepakat memberi nama desa itu Glenmore. Kata Glen mewakili lahan perkebunan yang berlembah dan sangat luas. Sedangkan more merupakan marga dari keluarga Ros Taylor. Jadi versi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nama Glenmore berasal dari lahan berlembah milik keluarga more. Salah satu bukti untuk memperkuat asumsi bahwa Glenmore terlahir dari sejarah keluarga more adalah dengan adanya perkebunan Glen Falloch dan Glen nevis di kecamatan Glenmore tetapi kedua daerah ini berada di satu desa karena luas tanahnya hanya sedikit. Ada juga perkebunan Trebasala yang merupakan penyebutan terbalik untuk alas (lahan/hutan) milik tuan Albert yang masih keluarga More.



Meskipun Glenmore identik dengan nama-nama dari Belanda tetapi Glenmore masih terikat kuat dengan budaya timur. Lepas dari beberapa versi sejarah penyebutan nama Glenmore, Glenmore adalah salah satu desa yang harus dijaga kelestarian alam dan budayanya sehingga dapat menarik wisatawan lokal maupun asing untuk melihat keindahan alam dan sejarah yang disuguhkan oleh desa ini.


           


Text Box: Diterbitkan oleh Nabila Amalliyah Putri, Universitas Jember
-Penerbit: Jeje –Pelindung : Anggara –Pemimpin umum: Andika
Alamat : Jl.Belitung2  No.27 Sumbersari  Jember